Raja Khalifa Bin Zayed Al Nahayan atau lebih akrab dikenal
dengan Sheikh Khalifa lahir pada 25 Januari 1948. Diamerupakan
putra sulung dari pasangan Zayed bin Sultan Al Nahyan dan Hassa bint Mohammed
bin Khalifa Al Nahyan.
Dia memiliki dua adik laki-laki
bernama Mansour bin Zayed Al Nahyan dan Ahmed bin Zayed Al Nahyan.
Khalifa menghabiskan masa kecilnya belajar di kota Al Ain. Sejak kecil dia
sudah dididik untuk menjadi pengganti raja suatu hari nanti. Dia sudah belajar
mengenai pemerintahan dan kepemimpinan di sekolah yang didirikan ayahnya.
Al Ain dan Al Buraimi tempatnya belajar merupakan pusat
ekonomi yang penting dan strategis untuk Uni Emirat Arab. Selain itu
sekolahnya terletak di pusat keamanan wilayah yang strategis dan besar. Tempat
tersebut berhubungan dengan lepas pantai Arab.
Saat itu, Al Ain masih kekurangan infrastruktur, seperti
jalan raya, listrik, dan pendidikan modern.
Tugas yang sangat sulit bagi sang ayah saat itu adalah
merebut tempat tersebut dari sejumlah suku di sana dan memastikan keamaan serta
stabilitas internal di kawasan tersebut. Meski demikian dia juga bertugas
memakmurkan suku di sana.
Khalifa merupakan anak yang beruntung mengingat dirinya
memperoleh manfaat dari dua lembaga pendidikan yang terhebat baik dari
pengajaran dan pendidikan politik. Di sana dia semakin dekat dengan suku-suku
Al Ain.
Khalifa mempelajari etika dan karakteristiknya. Di sana dia
belajar manajemen dan keterampilan berkomunikasi.
Mulai jajaki karir di kerajaan
Khalifa memiliki hubungan kekerabatan yang erat dengan
kalangan `Bani Yas` yang dianggap sebagai induk negara-negara di Timur Tengah.
Saat ini Bani Yas dikenal dengan nama Uni Emirat Arab.
Khalifa selalu mengikuti jejak sang ayah sepanjang hidupnya.
Pada 1966, Khalifa ditunjuk menjadi Kepala Departemen Pengadilan di Al Ain.
Posisi tersebut membawa pengaruh besar bagi kehidupan pribadinya. Saat itu ayahnya
baru menjadi penguasa baru Abu Dhabi.
Tinggal di Al Ain memberikan peluang besar bagi dirinya
untuk berkomunikasi dengan masyarakat Uni Emirat Arab sehari-hari. Khalifa bisa
langsung mengetahui kondisi dan kebutuhan rakyatnya.
Di usianya yang ke-21 tahun dia sudah diangkat menjadi putra
mahkota dan dipastikan menggantikan sang ayah saat dirinya lengser dari kursi
kerajaan. Zayed, sang ayah, sangat yakin pada kemampuan sang anak dan
memberinya berbagai kewenangan.
Khalifa bertanggung jawab atas sejumlah rencana peningkatan
bidang agrikultur dan penggalian sumur-sumur baru. Kesuksesannya merupakan batu
loncatan untuk karir panjang yang dia jalani di bidang pelayanan jasa. Khalifa
melakukan peran kepemimpinannya dengan tenang dan terampil. Tak heran dia
menyabet berbagai prestasi dan penghargaan.
Jadi raja pada usia 66 tahun
Khalifa selalu sukses dengan tugas-tugas pemerintahannya.
Tak heran saat pembentukan pemerintahan Uni Emirat Arab dibakukan, dia terpilih
menjadi perdana menteri Abu Dhabi pada 1971.
Keahliannya memegang jabatan tersebut membuat dirinya
diangkat sebagai wakil perdana menteri Uni Emirat Arab dua tahun kemudian. Pada
1976 dia diangkat sebagai Komandan Angkatan Bersenjata Uni Emirat Arab. Dia
sangat senang dengan keputusan ini karena sejalan dengan impiannya meningkatkan
kemampuan pertahanan negaranya.
Khalifa juga sangat memperhatikan sektor minyak di
negaranya. Berbagai perusahaan asing berdatangan untuk bekerja sama dengan
perusahaan minyak di negaranya berkat keahlian ekonomi dan komunikasi yang
dimilikinya. Terbukti berbagai investasi besar digelontorkan ke negara-negara
barat guna mengembangkan sejumlah industri terkait minyak dan gas.
Pria yang jago di bidang militer ini ternyata
turut berperan meningkatkan perkembangan teknologi di Uni Emirat Arab.
Dia lalu menduduki kursi kerajaan dan dinobatkan sebagai
raja Abu Dhabi dan presiden Uni Emirat Arab saat sang ayah meninggal pada 2004.
Rakyat tak meragukan kemampuannya memimpin negara mengingat serangkaian
keberhasilan yang diukirnya di berbagai bidang.
Raja terkaya dunia yang dermawan
Syeikh Khalifa diangkat sebagai raja menggantikan ayahnya
pada 3 November 2004. Berkat bakat bisnisnya dia berhasil menjadi
salah satu raja terkaya di dunia dengan total harta berjumlah US$ 15 miliar
atau setara Rp 162,7 triliun.
Meskipun saat ini dia mengelola 97,8 miliar barel cadangan
minyak di Uni Emirat Arab, tapi kekayaannya tak hanya berasal dari industri
tersebut. Syeikh Khalifa juga mengelola dana kekayaan penguasa tertinggi kedua
di dunia dengan jumlah aset berjumlah US$ 627 miliar.
Setahun setelah menjabat di posisi tersebut, Khalifa
menaikkan 100% gaji seluruh tenaga kerja di negaranya. Langkah ini merupakan
salah satu caranya untuk meneruskan mimpi sang ayah dalam mengembangkan negara
dan memakmurkan rakyat.
Selain loyal terhadap rakyat, dia juga terkenal sangat
dermawan. Syeikh Khalifa menciptakan sejumlah program bantuan baik dalam bentuk
beasiswa, dana penelitian dan dana tunai. Dia diketahui menyumbangkan sebagian
kekayaannya pada University of Wales and the University of Texas.
Dana Sebesar US$ 150 juta digelontorkan untuk
membiayai pendirian klinik perawatan kanker di University of Texas. Tak hanya
itu, tahun lalu dia membagikan iPad gratis pada seluruh siswa di tiga
universitas besar di Uni Emirat Arab.
Meski menyandang raja terkaya dunia, Syeikh Khalifah
terkenal rendah hati dan dermawan. Dia juga sangat memperhatikan kebutuhan
rakyatnya.
Artike By : M.Dandy Pratama Putra
No.Absen : 15

Tidak ada komentar:
Posting Komentar